Tentang Komunikasi Dalam Pertemuan dan Rapat [SOFTSKILL]

WENNY OCTORA

32209778

2 DD 04

TUGAS SOFTSKILL 1

DOSEN : HANDAYANI

 

Komunikasi Dalam Pertemuan dan Rapat

Pengaruh “komunikasi” sangat berperan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan suatu pekerjaan. Tak ada satu pekerjaan pun yang tak membutuhkan proses komunikasi. Ketika bekerja disitu ada interaksi diantara karyawan dan antara karyawan dengan atasan atau sebaliknya. Ada instruksi maka ada yang harus dikerjakan. Dan ada yang harus dikoordinasi. Begitu pula ketika dilakukan evaluasi pekerjaan dalam rangka membuat perencanaan kerja. Terjadi pertukaran gagasan berbasis visi, misi dan tujuan perusahaan. Kemudian disusunlah strategi dan kebijakan pencapaian tujuan. Pertanyaannya adalah selalu muluskah komunikasi kerja yang terjadi?

Kesalahpahaman merupakan fenomena komunikasi yang tak jarang terjadi. Bahkan disebut kejadian normal. Sering disebut akibat dari adanya distorsi informasi. Terjadi penyimpangan penafsiran antara yang dimaksud pengirim dan yang dinterpretasikan sang penerima pesan. Beberapa contoh kesalahpahaman antara lain adalah dalam menanggapi poin-poin penting suatu rapat; karyawan yang kurang memahami uraian pekerjaan dan tanggung jawabnya; ketidaktahuan dalam menindaklanjuti instruksi, surat-surat dan pengumuman; kesalahan dalam menanggapi gagasan pimpinan dan rekan kerja; dan kesalahanpahaman dalam teknik atau cara berkomunikasi dengan baik.

Faktor-faktor yang memengaruhi kesalahpahaman khususnya karena faktor komunikasi adalah (1) kondisi pelaku komunikasi seperti tingkat pendidikan,pengetahuan tentang kerja dan kondisi fisik; (2) isi pesan seperti kejelasan, dan isi kalimat; (3) media seperti jumlah dan mutu fasilitas; (4) kebisingan dalam hal fisik dan psikologi lingkungan kerja; (5) bahasa tubuh seperti dalam hal cara tutur kata, dan gerak tubuh. Semakin tinggi standar elemen-elemen tersebut diterapkan maka kemungkinannya terjadi distorsi informasi dan kesalahpahaman semakin rendah.

UNSUR–UNSUR KOMUNIKASI

Menurut Harold D. Laswell (ilmu Politik)Kontribusi lasswell pada ilmu komunikasi banyak ditemukan dalam bukunya propaganda and communication in World History, yang memuat formulasi yang kelak banyak digunakan dalam riset komunikasi massa :
• who adalah komunikator
• syas what adalah pesan
• in with channel adalah saluran
• to whom adalah komunikan
• whit the efect adalah efek
Menurut Laswell dilihat dari sudut pandang paradigma 3 yaitu :

Komunikator adalah oarng yang mempunyai motif komunikasi dan komunikator mempunyai 3 unsur yaitu manusia, yang mempaikan pesan,dan untuk mewujudkan motif komunikanya. komunikator terdiri dari Satu orang, Banyak orang dalam pengertian lebih dari satu orang Apabila lebih dari satu orang yakni banyak orang- dimana mereka relatif saling kenal sehingga terdapat ikatan emosional yang kuat dalam kelompoknya,maka kumpulan banyak orang ini kita sebut kelompok kecil (saling kenal).

Pesan adalah segala hasil penggunaan akal budi manusia yang di sampaikan untuk mewujudkan motif komunikasinya. pesan itu bersifat abstrak. lambang – lambang komunikasi disebut juga bentuk pesan, yakni wujud konkret dari pesan, berfungsi mewujudkan pesan yang abstrak menjadi konkret. lambang-lambang komunikasi ada dua jenis umum dan khusus, yang umum adalah mimik,gerak gerik lazim digolongkan dalam pesan nonverbal,sedangkan bahasa lisan dan bahasa tulisan dikelompokkan dalam pesan verbal sedangkan khusus yaitu nada, gambar, dan warna. makna pesan terbagi dua yaitu, konotatif makna yang terikat dengan konotasi, dan denotatif makna sebagai mana adanya.

Tujuan komunikasi dalam organisasi adalah mutual understanding, dalam arti mencoba mencari saling sepemahaman antara anggota-anggota dalam organisasi tersebut.
Lingkup kajian komunikasi organisasi adalah komunikasi organisasi yang terjadi dalam suatu organisasi, bersifat formal dan informal dan berlangsung dalam suatu jaringan Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Yang termasuk dalam bidang ini adalah : komunikasi internal, hubungan manusia, hubungan persatuan pengelola, komunikasi dari atasan ke bawahan atau sebaliknya dari bawahan kepada atasan, komunikasi horisontal, ketrampilan berkomunikasi dan berbicara, mendengarkan, menulis dan komunikasi evaluasi program (Redding & Sanborn).

PERTEMUAN

Pemeliharaan komunikasi yang baik antara karyawan dan pimpinan melalui persamaan dan penyetaraan mutu dan misi bersama menjadi media yang tepat dan akan menciptakan iklim yang kondusif dalam lingkungan kerja (perusahaan) sehingga pada akhirnya terjalin hubungan baik antara karyawan dan pimpinan, serta mampu memicu timbulnya rasa sense of belonging pada perusahaan dalam diri karyawan. Selain itu, dalam pertukaran informasi dari karyawan dan pimpinan, harapan karyawan dan kemauan pimpinan melebur menjadi satu untuk menciptakan persamaan persepsi, visi, dan misi perusahaan.

Bentuk keterlibatan karyawan baik kegiatan formal maupun kegiatan nonformal (gathering) merupakan sebuah aspek dalam peningkatan mutu kehidupan berkarya. Berbagai teknik dipergunakan pada intinya berkisar pada peningkatan partisipasi karyawan dalam keputusan yang menyangkut pekerjaan mereka dan hubungannya dengan perusahaan. Dengan demikian, bukan hanya rasa tanggung jawab karyawan yang ditingkatkan akan tetapi yang sesungguhnya diharapkan terjadi adalah timbulnya rasa memiliki perusahaan. Sudah barang tentu adanya rasa memiliki akan berakibat pada keberhasilan perusahaan. Karena para anggota organisasi akan berusaha menghindari perilaku yang disfungsional dan dengan demikian bekerja dengan lebih produktif.

Dengan adanya rasa memiliki perusahaan karyawan tidak akan lagi bekerja sesuai dengan perintah atau berdasarkan gaji melainkan berdasarkan kemauan sendiri dan panggilan hati nurani untuk menjaga stabilitas perusahaan yang menaunginya, dengan meningkatkan hasil produksi perusahaan. Pertemuan memenuhi kebutuhan inti manusia. George Kelly, John Dewey, Martin Buber, dan komentator -komentator lain tentang kondisi manusia, telah mengamati bahwa pertemuan tatap muka bisa menjaga persatuan dunia realitas manusia. Bersama-sama orang membangun bahasa, sistem nilai dan kode tingkah laku yang mendefinisikan ‘dunia’ dengan kata lain, pertemuan memberikan kesempatan bagi pembentukan struktur kolektif, struktur kolektif bermanfaat untuk menyatukan nilai-nilai dan tujuan-tujuan individu dengan orang lain yang ada dalam lingkup perusahaan. Pada dasarnya, motivasi yang dilakukan oleh perusahaan melalui media gathering adalah kiat untuk meningkatkan hasil produksi perusahaan. Dengan adanya gathering ini karyawan akan merasa ada di perusahaan dan merasa dihargai sehingga rasa disfungsi tidak timbul dalam diri karyawan dan pada akhirnya akan memunculkan sikap atau tindakan produktivitas dalam perusahaan yang berdasarkan pada sense of belonging.

 

RAPAT

Rapat merupakan sebuah paradoks. Rapat adalah sumber frustrasi terbesar dalam dunia kerja, dan juga merupakan peluang terbaik untuk menyelesaikan segala hal. Rapat adalah kegiatan kerja yang paling umum, namun pada saat yang bersamaan juga merupakan kegiatan yang paling sulit dimengerti.

Lalu, apa pentingnya rapat internal pada sebuah perusahaan? Ada beberapa hal penting terkait dengan rapat, tetapi kesemuanya terpusat pada keuntungan-keuntungan yang bisa didapatkan dari mengumpulkan beberapa orang secara bersamaan pada waktu yang sama. Ada rapat yang diselenggarakan sehingga para pesertanya mendapatkan informasi yang sama. Ada juga rapat yang diadakan sehingga setiap peserta rapat dapat mengambil bagian dalam pengambilan keputusan. Ada juga rapat yang menggabungkan kedua hal tersebut diatas, dan ditambah lagi pengkoordinasian kegiatan-kegiatan yang diputuskan dalam rapat tersebut. Apapun alasan dari penyelenggaraan sebuah rapat, ada 5 hal penting yang harus diperhatikan sehingga sebuah rapat dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

1.   Pastikan bahwa setiap orang yang mengikuti rapat mengetahui dengan pasti kapan dan dimana rapat tersebut akan diadakan, apa yang akan dibicarakan, sehingga mereka dapat mempersiapkan informasi yang relevan sebelum rapat di mulai, dan mereka juga harus tahu kapan rapat tersebut akan selesai.

Jika tujuan dari rapat hanya untuk menyampaikan sebuah informasi tertentu, maka patut dipertimbangkan untuk tidak mengadakan rapat sama sekali. Kita membaca lebih cepat daripada berbicara, jadi kalau informasi tersebut dapat disampaikan sebelum rapat, lalu apa gunanya rapat?

Selain itu, kita juga harus memperhatikan jumlah peserta rapat. Menurut pengalaman saya, jika dalam suatu rapat terdapat lebih dari 7 orang peserta, maka tidak akan tercapai sebuah “kata sepakat”; jika hal ini terjadi, maka kita hanya bisa menginformasikan beberapa hal tertentu kepada mereka dan mungkin melakukan pemungutan suara terbanyak.

2.   Mulailah tepat waktu. Jangan menunda, jangan menunggu. Kebanyakan rapat tidak dimulai tepat waktu, dengan kata lain sudah keluar jalur bahkan sebelum sepatah katapun terucap. Jika hal ini terjadi beberapa kali, maka para peserta rapat mulai berpendapat bahwa mereka tidak harus datang tepat waktu untuk menghadiri suatu rapat, “karena pasti akan selalu ada yang datang terlambat”. Dan yang dimaksud dengan “tepat waktu” disini berarti Anda sudah duduk di tempat Anda dengan dokumen-dokumen yang sudah tertata rapi di depan Anda, dan handphone yang sudah dalam keadaan mati bahkan sebelum rapat di mulai.

3.   Pastikan setiap poin dalam agenda Anda mencakup keseluruhan detail yang diperlukan. Selain itu, seringkali akan sangat membantu jika Anda memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk membicarakan setiap poin tersebut dan menuliskannya dalam agenda Anda. Kalaupun tidak, pastikan bahwa hal-hal yang menjadi prioritas utama dibicarakan terlebih dahulu pada saat rapat. Dengan demikian, jika waktu rapat tidak mencukupi maka hal-hal penting tersebut tidak disampaikan dengan tergesa-gesa pada akhir rapat.

4.   Catatlah. Beberapa rapat mengharuskan adanya catatan mengenai siapa yang berkata apa, atau lebih sering dikenal sebagai notulen. Membuat notulen adalah tugas yang membutuhkan keahlian dan tidaklah begitu mudah, dan siapapun yang melakukannya tidak akan mungkin dapat berpartisipasi secara penuh. Beberapa rapat yang lain hanya membutuhkan tidak lebih dari sekedar daftar hal-hal yang telah disepakati. Setiap peserta rapat dapat menjadi notulis, sehingga ada baiknya jika setiap peserta secara bergantian mendapatkan kesempatan dan pengalaman untuk menjadi seorang notulis.

5.   Bertindaklah! Jangan menunggu sampai rapat berikutnya! Catatlah hal-hal yang harus Anda kerjakan, dan lakukanlah sesegera mungkin, dan laporkan hasilnya pada rapat berikutnya.

Rapat yang baik merupakan sebuah perangkat yang kokoh. Sekelompok orang berbagi informasi yang sama, dan bekerja guna mencapai tujuan yang sama pula. Rapat yang buruk menghancurkan, menghilangkan keterikatan, merusak hubungan kerja, dan menciptakan tekanan di dalam kelompok tersebut. Tetapi tidak benar kalau semua kesalahan ditimpakan pada pemimpin rapat apabila sebuah rapat tidak berjalan dengan baik. Setiap peserta punya peranan di dalamnya. Mereka harus siap dengan topik rapat, mematuhi etika rapat, berbicara pada waktunya, dan berbicara dengan singkat dan langsung pada pokok permasalahan.

Secara umum, bahasa yang digunakan di dalam rapat lebih “formal” daripada bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Saya pernah menghadiri rapat di mana para pesertanya disapa dengan menggunakan posisi jabatan masing-masing. Dan pada rapat-rapat lainnya, para peserta tidak berbicara secara langsung satu sama lain. Pada rapat di mana bahasa yang digunakan bukanlah bahasa Anda maka hal ini akan terasa sulit bagi Anda.

TEKNIK BERBICARA, MEMBACA DAN MENDENGARKAN

Berbicara merupakan aktifitas sehari-hari yang sangat vital bagi kesuksesan setiap orang.

Sangat Vital, karena dengan berbicara, kita dapat memotivasi orang lain, menyampaikan ide, mendapatkan banyak penghargaan dari orang lain, mempengaruhi orang lain, bahkan dapat melejitkan karir, menutup lebih banyak penjualan, dan memajukan bisnis.
Banyak juga orang yang pendapatan pribadi & keluarga-nya meningkat berkat kemampuan Berbicara yang di-miliki-nya.

Namun sayangnya, hanya sedikit orang yang menguasai ilmu berbicara yang hebat, yang mampu menggugah perasaan orang, yang mampu mempengaruhi orang, dan yang mampu membuat orang merespon dan bertindak sesuai dengan pembicaraan kita.

  • Teknik Berbicara Yang Baik

Bicaralah ramah pada setiap orang. Perkataan/artikulasi pun harus jelas agar tidak terjadi miscommunication. Perhatikan pula pemilihan kata. Meski bertujuan baik, jika salah berkata-kata maka tujuan itu tidak akan tercapai. Lakukan kontak mata pada lawan bicara.

Saat bicara dengan atasan, usa-hakan fokus. Bicara seperlunya, Jangan ngelantur sehingga intinya malah tidak jelas. Kalau atasan memancing kita membicarakan masalah personal seorang rekan sekerja, sebagai bawa-han yang profesional sebaiknya kita berbicara diplomatis. Jangan menjelek-jelekan rekan kita.

  • Teknik Berbicara di Depan Umum

Berbicara di depan umum bukanlah soal bakat. Kemampuan itu bisa dilatih. Seorang pendiam bisa tampil memikat di depan umum, asalkan ia mau belajar. Miliki kepercayaan diri. Kuasai bahan pembicaraan. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan:

Tunjukkan antusias terhadap situasi dan pendengar.
Lakukan kontak mata 5-15 detik, dan tatapan kita pun harus bekeliling bukan pada satu orang saja. Jadi, semua orang merasa diajak berbicara.
Perlihatkan senyuman agar lawan bicara fokus pada kita.
Sisipkanlah humor, karena humor akan menghilangkan kejenuhan. Hindari humor yang berbau porno.
Fokus pada pembicaraan. Tidak perlu memperlihatkan semua wawasan yang kita punya, karena akan menunjukan kita sok pintar.
Berikan pujian yang jujur pada orang lain, tanpa menyimpang dari maksud.

  • Teknik Berbicara Profesional

Seorang profesional perlu mengenal teknik presentasi yang efektif, seperti yang disebutkan diatas. Ada tiga faktor penting lainnya:
Faktor verbal, 7 %. Menyangkut pesan yang kita sampaikan termasuk kata-kata yang kita ucapkan.
Faktor vokal, 38 %. Intonasi, penekanan, dan resonansi suara.
Faktor visual, 55 %. Penampilan kita.

Jadi, jangan menyepelekan penampilan dan suara, sehingga orang yang mendengarkan tidak bosan. Kita harus pintar mengaturnya sehingga menciptakan suasana yang “hidup” dan dinamis.

  • Teknik Membuka dan Menutup Pembicaraan

Untuk mengawali suatu pembicaraan, adakanlah small talk, seperti mengucapkan selamat pagi, siang atau malam. Untuk memancing perhatian pendengar, lemparkan joke ringan. Setelah itu baru ke topik utama. Akhiri pembicaraan dengan ilustasi dan summary hasil pembicaraan di dalamnya. Jadi, jangan bicara dari A sampai Z, sebaiknya diringkas sehingga orang mengerti dan tidak melupakan pesan atau intisari pembicaraan.

Ketika kita ingin menjadi pribadi yang di sukai oleh siapapun, dan bukan menjadi pribadi yang selalu menjadi pembuat masalah untuk dirinya sendiri termasuk lingkungan sekitarnya, maka menjadi pendengar yang baik adalah salah satu syaratnya.

  • 5 (lima) tekhnik yang di tawarkan oleh James K. Van Fleet agar kita bisa mendengar sepenuh hati sehingga orang lain mau membuka diri kemudian mau berbicara dengan kita.
  • 1. Melihat kepada orang yang berbicara.
  • Jangan sampai kita terusik oleh apa pun juga, orang yang sedang berbicara akan segera mengetahui kurangnya perhatian kita dan akan kecewa karenanya.
  • 2. Tunjukkan minat pada apa yang ia katakan.
  • Jangan ucapkan sepatah kata pun, anggukkan saja kepala kita dan senyumlah jika perlu.
  • 3. Condongkan badan ke arah orang itu.
  • Ini menunjukkan kepedulian mendalam pada apa yang dikatakan oleh orang tersebut.
  • 4. Gunakan umpan balik agar ia tetap berbicara.
  • Kita dapat menunjukkan kepedulian kita dan menjaga agar lawan bicara tetap berbicara dengan mengatakan hal-hal seperti, ohh…, ya… saya tahu… itu memang benar, dan lain – lain.
  • 5. Ajukan pertanyaan bila perlu.
  • Yang perlu kita lakukan hanya bertanya, misal “Lantas apa yang Anda katakan padanya?” atau, “Kemudian, apa yang Anda lakukan?” Itu sudah cukup untuk tidak membuat orang lain kecewa, dan menjaga agar orang itu tetap berbicara untuk jangka waktu tak terbatas.
  • Selain 5 (lima) tekhnik diatas, ada tambahan 2 (Dua)tekhnik lagi dari Les Giblin untuk melengkapi teknik-teknik yang ditawarkan James.
  • 1. Tetap mengikuti bahan percakapan si pembicara.
  • Jangan mengganti bahan percakapan yang sedang dikemukakan orang lain sebelum dia selesai, tidak peduli apakah kita tidak sabar ingin memulai bahan percakapan baru.
  • 2. Gunakan kata-kata si pembicara untuk menyampaikan pendapat kita sendiri.
  • Setelah orang lain selesai bicara, ulangi kembali kepadanya bebera hal yang dikatakannya. Ini bukan hanya membuktikan bahwa kita mendengarkan, melainkan juga merupakan cara yang baik untuk mengemukakan gagasan kita tanpa perlawanan. Awali beberapa komentar kita sendiri, dengan, “Sebagaimana yang telah Anda katakan…” atau, “Ini tepat seperti yang Anda katakan…”
  • Dengan “mendengar”, siapapun yang hadir dalam rapat akan menerima gelombang suara orang yang berbicara. Tapi, materi yang disampaikan tidak dicerna. Dengan “mendengarkan”, seseorang secara aktif menerima gelombang suara pembicara dan mencerna maknanya. Sikap seperti ini akan membuatnya tidak gampang lupa. Dan, yang mesti bersikap seperti ini bukan hanya bawahan, staf, tapi juga manajer dan eksekutif. Di ruang rapat maupun di luar ruang rapat.
  • Bagi banyak orang, tindakan mendengarkan secara aktif barangkali membosankan, walaupun banyak orang juga enggan berbicara dan menyampaikan pikirannya. Namun banyak ahli manajemen dan komunikasi yang meyakini bahwa inilah kunci untuk memahami orang lain. Dengan mendengarkan secara aktif, kita berusaha berempati pada yang berbicara, mencoba memahami apa yang dikatakan. Orang yang berbicara pun merasa lebih dihargai. Ada yang menyebut ini sebagai “mendengarkan dengan empati”.
  • Sebagai kunci untuk memahami orang lain, mendengarkan pandangan teman satu tim kerja menjadi penting. Kesalahpahaman dapat dikurangi. Masing-masing anggota tim akan mengerti kekurangan dan kekuatan masing-masing, untuk kemudian saling mengisi. Dari sinilah kerja sama tim mulai terbentuk. Dan bila kimiawi sesama anggota tim sudah melebur, kerja sama tim akan menjadi kekuatan yang hebat.

Menyusun Pesan

Presentasi yang efektif menyampaikan pesan kepada audiens melalui suatu cara yang menghasilkan perubahan yang dikehendaki dalam pengertian dan gagasan. Presentasi mempunyai tujuan yang lebih luas dari pidato. Tujuan presentasi untuk mengajak, menjelaskan gagasan, berbagai pengetahuan dan pengalaman membantu audiens membuat Keputusan dan seringkali untuk mendapatkan umpan balik dari mereka. Para pembicara yang tidak berpengalaman dan memiliki kurang rasa percaya diri serta membuat sedikit atau tanpa persiapan biasanya tidak dapat berkomunikasi secara efektif dengan audiens. Kegugupan adalah respon biologis menghadapi situasi yang tidak biasa dan tidak tentu. Apa yang dibutuhkan ? Cara mengontrol dan mengatasinya guna mencapai tujuan lah yang dibutuhkan. Hal ini berasal dari percara diri dan keyakinan bahwa kita dapat menyampaikan gagasan atau ide kita secara efektif sehingga akan mengalihkan energi gugup menjadi rasa antusias untuk menyampaikan pesan. Rasa percara diri dapat membantu mengatasi masalah stress, grogi, demam panggung, dan membantu menyajikan paparan serta memperoleh hasil yang dikehendaki. Cara terbaik mendapatkan rasa percara diri dengan membuat persiapan yang baik.

Persiapan pertama adalah kenalilah audiens anda  ;) dengan :
1.       mencari tahu siapa yang akan hadir.
2.       memahami apa yang mereka harap dapatkan dari presentasi anda.
3.       memutuskan apa yang akan mendorong mereka untuk mendengar dan mengingat pesan anda.
Cara praktis mengenali audiens dengan membayangkan diri anda sendiri dalam posisi mereka dan pikirkan tentang bagaimana pesan anda akan memuaskan mereka.
Kedua adalah menyiapkan pembicaraan anda. Untuk mencapai hasil yang anda inginkan dari sebuah presentasi. Anda harus merencanakan pesan yang ingin anda sampaikan secara rinci dan cara terbaik untuk menyampaikannya. Analisa terhadap audiens akan sangat membantu untuk dapat memenuhi harapan mereka. Secara garis besar anda harus tahu apa yang ingin dicapai. Isi presentasi anda akan membantu untuk :
1.       menulis sasaran yang sekaligus berperan sebagai panduan dalam menyusun dan mengembangkan pesan anda.
2.       mengumpulkan semua ide anda untuk meyakinkan agar semua hal-hal penting dapat disampaikan.
3.       menyusun pesan anda agar mudah disampaikan.
4.       mendukung semua ide anda agar menjadi jelas dan sesuai dengan audiens serta memiliki dampak.
5.       membuat garis besar presentasi anda untuk dapat digunakan dalam latihan.
6.       mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan disampaikan oleh audiens.
7.       memilih judul yang efektif.

Sedangkan dalam penyusunan surat dinas berbeda dari penyusunan tulisan ilmiah lain. Perbedaan ini sebenarnya mengurangi tugas penulis. Dalam surat dinas, penyusun hanyalah harus menuliskan apa yang seharusnya dituliskan tanpa perlu mengembangkan ide-ide kreatif atau menjabarkan ide-ide terlalu rinci. Guffey dkk. (2006) menyatakan ada tiga prinsip dasar dalam penyusunan pesan bisnis, termasuk surat dinas, adalah :

  1. Mempunyai Tujuan. Tujuan utama penulisan surat dinas adalah untuk menyelesaikan masalah atau menyampaikan informasi. Oleh karena itu, dalam menyusun surat dinas, pesan yang harus disampaikan harus jelas tujuannya.
  2. Hemat Ekonomis. Tulisan yang dibuat hendaknya dibuat singkat, jelas serta tidak bertele-tele.
  3. Berorientasi pada Pembaca. Orientasi tulisan pada surat dinas hendaknya agar pesan dapat dimengerti oleh pembaca.

About wennyocto


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: